Laga Indonesia vs Malaysia Bernilai 643 Juta Rupiah Bagi PSSI

Ketika yang diperbincangkan adalah pertandingan sepak bola Timnas Indonesia melawan Malaysia, maka kondisi sosial dan budaya tidak luput dari perhatian. Merujuk pada letak geografis Indonesia dan Malaysia yang berdampingan, kedua negara ini sering berjumpa di berbagai laga sepak bola dalam segala kategori dan memiliki sejarah rivalitas yang cukup panjang sejak tahun 1957.

Suporter Indonesia dan Malaysia

Kilas Balik Sejarah Timnas Indonesia dan Malaysia

Sebagai negara serumpun yang terletak di Kawasan Asia Tenggara, Indonesia dan Malaysia memiliki ikatan kekerabatan yang sangat kuat sebagai sesama penganut budaya Melayu. Namun, terkenal sebagai rival abadi dalam dunia sepak bola.

Sejarah mencatat kedua Timnas ini sudah 95 kali bertemu dengan keberhasilan Timnas Indonesia untuk mengantongi kemenangan sebanyak 39 pertandingan, dan Timnas Malaysia sebanyak 35 laga, serta 21 pertandingan yang diakhiri dengan hasil seimbang.

Catatan pertandingan tersebut menjadi pertandingan terbanyak antarnegara sesame kategori Asia tenggara. Tetapi hal itu tidak semata menjadikan Indonesia lebih unggul dalam hal koleksi piala event resmi. Pada kenyataannya Timnas Malaysia lebih unggul dalam mengumpulkan piala event resmi.

Timnas Malaysia telah mengukir sejarah melalui keberhasilannya menjadi juara Piala AFF. Sedangkan Timnas Indonesia baru tercatat berhasil menjadi lima kali runner-up di Piala AFF tersebut dan belum pernah berhasil menjadi yang terbaik di laga-laga tingkat Asia Tenggara.

Untuk catatan kemenangan lainnya, Timnas Indonesia tercatat mengantongi medali emas di multievent Asia Tenggara sebanyak dua kali pada tahun 1987 dan tahun 1991. Dan belum ada catatan kemenangan serupa setelahnya.

Sementara itu, Timnas Malaysia tercatat menjadi kampiun sebanyak enam kali di kancah pertandingan olahraga SEA Games pada tahun 1961, 1977, 1979, 1989, 2009, dan 2011. Timnas Indonesia pernah lolos ke laga puncak di event olahraga SEA Games pada tahun 2011 dan 2013. Namun tidak berhasil meraih hasil terbaik. Pertandingan itu diakhiri dengan kemenangan Timnas Malaysia.

Kualifikasi Piala Dunia 2022 yang Diwarnai dengan Kericuhan

Perseteruan yang terjadi antara kedua negara ini seringkali tidak semata karena duel panas di lapangan hijau, tapi juga pertaruhan harga diri bangsa. Banyak isu-isu sosial budaya dan politis, terutama sentimen geografis, menjadi pemicu bertambah panasnya rivalitas kedua negara. Hal ini membuat suporter kedua negara sering terlibat benturan di dalam maupun di luar stadion.

Provokasi beberapa oknum suporter Indonesia terhadap Ultras Malaya di laga kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia Grup G yang digelar pada Kamis, 5 September 2019 berakhir menjadi perselisihan. Perseturuan tersebut pun sempat membuat pertandingan yang diwasitkan oleh Ko Hyung-Jing itu harus dihentikan sementara dan menjadi pusat perhatian publik.

Usai perselisihan tersebut aman dan terkendali, pertandingan pun dilanjutkan kembali hingga 2×45 menit plus injury time. Walaupun terjadi kericuhan, Timnas Malaysia tetap bermain dengan baik dan mengantongi skor 3-2. Namun usai pertandingan, kericuhan pun memanas kembali hingga pihak kepolisian harus mengamankan suporter Malaysia.

Konflik antara pemain maupun suporter dari kedua negara sudah menjadi hal lumrah. Bila ingin menelusuri perselisihan dalam ranah sepak bola, dapat dilihat bahwa konflik yang terjadi berkisar dalam hal-hal seperti benturan antar pemain, isu-isu kecurangan, perseteruan antar suporter, sampai pada konflik lapangan kerja.

FIFA Ambil Tindakan Tegas Terhadap PSSI

Mengenai perselisihan yang terjadi di lapangan hijau kali ini, FIFA pun tidak tinggal diam. Akibat dari kejadian tersebut, FIFA memberikan sanksi denda sebesar 45.000 Franc Swiss (CHF), atau setara dengan 643 juta Rupiah, kepada PSSI.

Selasa, 9 Oktober 2019 Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria mengungkapkan bahwa PSSI menghormati keputusan dan proses hokum yang diberikan oleh FIFA terhadap PSSI. Menurut Ratu Tisha Destria, PSSI akan memenuhi kewajiban dan mengevaluasi kejadian tersebut. Selain menaruh harapan besar agar kejadian tersebut tidak terulang kembali, Sekretaris Jenderal PSSI tersebut juga berharap semua pihak dapat bersinergi untuk mewujudkan nilai-nilai baik dalam sepak bola.

Berkaca pada Pemberian Sanksi oleh FIFA

Perjuangan Alberto Goncalves pada menit ke 12 dan 39 untuk mencetak dua gol bagi Indonesia tidak berhasil membawa Indonesia menjadi pemenang pertandingan laga kualifikasi Piala Dunia 2022 melawan Timnas Malaysia. Tidak cukup sampai disitu, jerih payah Timnas Indonesia harus dinodai oleh tindakan suporter Indonesia yang mengecewakan.

Timnas Indonesia sendiri dijadwalkan akan bertemu dengan Timnas Vietnam dalam laga keempat Pra-Piala Dunia 2022 pada Selasa, 15 Oktober 2019 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Peristiwa-peristiwa kericuhan yang terjadi saat Timnas Indonesia bertanding melawan Timnas negara lain tentu saja diharapkan tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.

Meskipun Indonesia sudah dipastikan terlepas dari ancaman sanksi lainnya yang lebih berat, namun sanksi yang diberikan tentu saja tetap menjadi kerugian bagi Indonesia. Hal tersebut harus dapat menjadi pelajaran dan evaluasi tidak hanya bagi PSSI, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia secara menyeluruh karena sepak bola seharusnya bukan menjadi ajang baku hantam, melainkan pemersatu bangsa dan promosi keragaman budaya serta untuk menyerukan sikap saling menghormati satu sama lain.